Pahit, Getir, Asem, Manis

Life is so full of taste. Banyak rasa yang bisa dialami dalam kehidupan. Terkadang pada saat segalanya berjalan dengan baik, hidup itu jadi berasa manis. Pada saat banyak kendala dan halangan, rasanyapun bisa jadi lebih bervariasi dari asem, getir bahkan pahit sekalipun. Bahkan, rasa manis bisa bercampur dengan asem atau pahit pada saat yang bersamaan. Kalau diibaratkan seperti iklan permen di jaman dulu (kayaknya jaman sekarang pun masih beredar di pasaran), hidup itu rasanya RAME.

Saya sebagai blogger bulanan (NOTE: posting dalam hitungan bulan, jadi jarang sekali bisa terjadi 2 postingan pada bulan yang sama), saya selalu mengangkat hal-hal yang saya pikir menarik buat ditulis. Dan saya tidak pernah menduga dalam rentang waktu kurang lebih satu bulan dari postingan saya yang kemaren, saya merasa hidup saya cukup berasa rame dan berwarna-warni. Can't help to share mengenai RAME nya rasa hidup saya akhir-akhir ini yang saya rasakan. Saya kok berasa jadi agak narsistis kalo begini (hehehheehe ... sambil ketawa agak malu-malu kucing!).

Berawal dari tawaran seorang teman baik untuk menjadi curhat expert di suatu road-show event sabun kecantikan yang berICONkan seorang penyanyi/pelakon yang sedang naik daun (sorry, gak disebut karena she's not really the topic of this posting. To ease your curiousity just click here to find out). Hm ... wow ... I didn't really believe that such offer would ever really happen in reality to an ordinary woman like me. It turned out that hari yang ditunggu-tunggu, the very big event itu nyatanya memang benar-benar datang. I was really there, in the middle of the crowds, under the spotlight (tsaaaaah ... berlebihan). Ternyata saya ditempatkan di suatu booth yang menerima curhatan-curhatan dari para pengunjung yang sudah membeli produk dari sabun kecantikan tersebut. Awalnya saya berpikiran bahwa ... yaaaa kayak dengerin curhatan-curhatan ringan a la keponakan saya, tak jauh berkisar dari masalah cinta, kuliah, sekolah, friendship yang gitu-gitu lah. Or else, a la teman-teman saya mengenai jodoh, pekerjaan, karir, pokoknya women's talk lah. To be short, ternyata permasalahan much more complicated than that. Kalaupun mengenai pacaran, urusannya pasti lumayan complicated seperti memacari 2 cowok at once, pacaran beda agama yang pake acara usir-usiran, dan juga tentang pacaran yg nyerempet ke tahap awal KDRT. Masih pacaran kok ya udah pake acara main tangan?? Belum lagi urusan traumatis lain seperti melihat sang Ayah memukuli Ibu nya tiap hari, kawin siri gak ketauan begitu pas beneran mau diresepsikan eh lah kok melahirkan dan sebulan kemudian bayi nya meninggal. Tragis! Dan banyak lagi lah ... Saya yang semingguan sebelum acara tersebut ngerasa miserable gak jelas, jadi agak sedikit termotivasi. Jadi lebih semangat, karena ternyata masih banyak yang permasalahannya lebih ruwet dari saya, dan unfortunatelly mereka bingung bimbang dan resah karena sepertinya jalan keluar tertutup banget buat mereka. Furthermore, peristiwa di atas yang akhirnya saya sebut sebagai vitamin hati ternyata memang, in a way, merupakan bekal yang cukup ampuh bagi saya untuk menghadapi gelombang hidup yang saya tidak pernah duga sebelumnya bakal terjadi pada saya.

I always admire people who are able to stand up for their principle. Or people who can survive unemployment. Saya terkadang berpikir bahwa saya punya prinsip dalam hidup, walaupun terkadang ngotot dan kepala batu, tapi saya merasa bahwa seprinsip apapun itu, kompromi adalah senjata mujarab. Dan menyambung statement ke dua, saya adalah tipikal pekerja kantoran yang ngimpi buat keluar tanpa ada kepastian hidup adalah the last on my list, or it's not even listed! Dan ternyata ... our deepest fear might really happen to reality. As I mentioned before (in some of my previous postings), bahwa saya merasa udah kurang bisa berkembang, saya merasa bahwa kurang adanya dukungan dan lain-lain di pekerjaan ini. Si suatu sore yang cerah, si Ujung (alias si boss yang happens to have an office di Ujung) memanggil saya urusan kontrak saya yang mau habis. Melalui suatu perbincangan yang alot pihak kanan dan pihak kiri. Syarat dari dia dan juga keberatan-keberatan saya mengenai hal-hal yang menurut saya prinsipil dan lain-lain, akhirnya saya putuskan untuk tidak melanjutkan perjalanan saya di kantor ini! Dengan penuh ketenangan dan graceful as usual. AND THEN WHAT?

I know that being unemployed will be a big disaster to my life! Some people might say ... MAKAN ITU PRINSIP! Tapi sorry ... not this time. I have to take a stand di mana saya mau bersikap dan berdiri. Then, saya kembali ke ruangan saya ... acted as if tidak ada apa-apa terjadi pada diri saya. Didn't really want to make a scene out of this crazy situation. Tarik nafas panjang dan minum air putih, sambil terpikir ... what have I done!? Sambil geleng-geleng kepala dan garuk-garuk kepala saya yang gak gatel, what was that all about? Am I crazy or what? Baru terasa guncangannya setelah berlalu ... Did I regret this??? No No No ... gak ada dongengnya menarik hal-hal yang sudah terucap dan yang jelas saya tetap dengan konsekuen akan menjalaninya dengan mengatur plan yang jelas. But it turned out that what lies beneath berefek pada diri saya. Walaupun saya teuteup pengen bertindak seperti gak ada apa-apa, kok ndilalah adaaaa aja yang kelupaan lah, jadi tiba-tiba ngelamun lah apa gimana gitu? Stress tapi gak mau ngaku? Mungkin! Gengsi ngaku kalo kepikiran? Probably?? Saya sudah berketapan untuk get out of this messy situation. I have plans ahead, bikin ini itu dengan temen-temen, melanjutkan bisnis phia kecil-kecilan saya. But then again, the most concern yang saya pikir adalah mamie. Duhhh ... mesti ngomong apa ya sama beliau nya? I know it's silly! I'm over 30 dan kyknya kok urusan beginian masi berurusan sama orang tua?? Well ... the youngest will always stay the youngest in the family.

Ndilalah bisnis kecil-kecilan yang baru saya mulei dengan kakak saya kok yaaa ... mulai picking up. But still ... saya masih seperti terjebak dalam kekalutan yang kurang jelas. Kadang tiba-tiba saya nglamun, dan yang saya lamunkan juga kurang jelas? Baru mulai kepikir juga, hmm ... kalo sudah sebulan dan gak ada tawaran kerja, gimana ya? Therefore, saya mengkontak network saya ... but saya berasa agak tenang karena most people said, it's about time you move on lah ... and I did it! Semakin ke sini saya juga berasa ... I really think I didn't make the wrong decision. I just believe that ini adalah suatu gelombang yang harus saya hadapi at the moment. Walopun cukup bikin saya hang dll ... tapi sutra lah!

Puncak nya adalah ... I lost my HP. Oh ... My goodness! Lemes aja saya rasanya. HP itu terjatuh pada saat saya makan di suatu warung batagor dengan teman saya. Yang kepikir waktu itu ... I don't have a job next month and I have to lose my HP. It was just PERFECT!!!! Saya cuman bisa terdiam ... Apa lagi ini? Sutra lah ... saya pasrahin ajah. Walaupun akhirnya saya akhirnya nyungsep dalam kebetean yang amat sangat dalam. It's not the HP that I regret .... cuman kok ya all the things came at once, sehingga saya yang selalu mencoba kuat, selalu mencoba tenang dan menggunakan logika instead of bertindak grusa grusu, akhirnya tak sanggup juga. Rasanya segala back-up plan yang saya canangkan just don't work dan another bad things still coming. Frustrated? Probably! Saya yang awalnya mencoba tenang akhirnya lost it! Totally lost it! Entah kenapa pada saat-saat berat ini saya sedang merasa tidak sreg buat curhat dengan siapa-siapa. Felt like I want to keep it for my self, but somehow I just lost it! I burst my tears over the phone to seseorang teman diskusi di kampus. Didn't say much, just mingsek-mingsek gak jelas sambil cerita kalo HP saya ilang dll. I told him that I didn't really need any respon just want to release all the burden that has been raging inside my self. Since I told him what's going on sejak dari awal, he totally understood pada saat saya bener-bener lost it! Somehow, it really worked! Hati berasa lebih enteng ... and the most important thing is that jalan akhirnya seperti terbuka satu per satu.

That easy? No no no …. Nothing’s fixed yet. Tapi at least, bayangan ke mana kaki ini mau melangkah setelah kantor yang sekarang ini sudah di depan mata. Ada generous offer dari beberapa tempat. Generous bukan dalam artian hanya angka ... tapi offer tersebut datang pada saat yang tepat dan juga mengerti kondisi saya yang mau berlibur dulu sepanjang july untuk recharging my self.

Walaupun saya jadi agak melupakan urusan percintaan yang sebelumnya agak terlalu menggebu-gebu untuk sementara waktu karena terlalu occupied dengan urusan nasib masa depan saya. Saya jadi bisa menarik banyak pelajaran dalam gelombang yang hampir-hampir menghempas diri saya. Gak nyangka bahwa banyak hal bisa berubah dalam waktu singkat. Selalu mawas diri dan ready for all seasons ada baiknya selalu ditanamkan dalam diri. Kalo dipikir-pikir mo seneng-seneng terus sih bisa ajah ... tapi naturenya segala sesuatu yang indah selalu berawal dari kerja keras yang tanpa henti. Emang sih kita kalo lagi gak ada apa-apa, suka gak mikir bikin persiapan untuk kondisi yang buruk ... tapi selalu berusaha untuk membuat things better all the time juga tidak ada salahnya. Buat saya yang suka making plans dan menSETkan apa yang kita plan seperti harapan kita, tidak ada salahnya untuk bisa lebih berkompromi dengan situasi yang mungkin tidak sesuai expectation. Compromizing standart ataupun just go along a little bit with the flow to make things adjustable terkadang harus dilakukan dengan sedikit menelan pride yang ada. Selalu membuka mata, telinga dan hati akan segala hal … dengan begitu hal-hal yang tidak sesuai dengan kata hati akan nampak jelas terlihat dan kita akan bisa lebih mengerti apa yang harus dilakukan dengan situasi yang sedang terjadi. Banyak orang yang beruntung dalam kehidupan ini, tapi bukan berarti orang yang tidak seberuntung orang2 itu adalah orang yang sial. Ujian dan cobaan itu adalah hal yang membuat kita belajar banyak hal kok. Terkadang memang menyebalkan melihat orang yg tidak/kurang selayaknya dan sepantaskan mendapatkan sesuatu that they didn’t earn it, they just do damn lucky! But ... hey ... kita lebih kaya pengalaman ... kita pernah ngrasain segala macem rasa manis pahit asin asemnya kehidupan dengan lebih kumplit! We know how good it feels to achieve something because we have experienced the failure. Kita tidak akan bisa tau gimana enaknya mendapatkan sesuatu kalo kita belum pernah ngrasain perjuangan ato susahnya buat ngedapetinnya. Eh ... kok jadi panjang dan lebar hehhehe ... maklum kelamaan gak posting. Anyway, enjoykanlah! Saya masih H2C sebelum mendaratkan pilihan saya pada tempat pekerjaan selanjutnya. Siap-siap dandan cantik lagi hehheeh. Dan juga masih ada another ujian yang mungkin bakal cukup emosional buat saya, tapi yaaa ... saya inget kata temen saya bahwa I shouldn’t waste my energy buat suatu emosi yang mungkin tidak akan dimengerti orang lain. Just play gracefully and kick some asses from the back! It’ll strike out those b*ts! Uuuu yeah ….

this writing is also available at http://nienordinary.blogspot.com

                            

Obrolan dari hati

Suatu sore ....

Di sebuah gedung perkantoran ....

Terjadilah sebuah chit-chat antara 2 perempuan lajang dan seorang lelaki yang sudah menikah.

20-something woman : Kalo lagi jatuh cinta, kepala bisa jadi kaki, kaki bisa jadi kepala.
Married man  : Salto dong, Neng?
30-something woman : Emangnya sirkus, boss? (menekuni laptopnya, sambil asal mangap)
20-something woman : iiihhh ... susah emang ngomong ama juragan minyak. Maksudku ... falling in love is an undescribable state of mind yang bisa membuat segalanya berasa seperti roller coaster.
Married man  : Berlebihan kamu!
30-something woman : Falling in love adalah perasaan yang luar biasa ... tapi lebih sering end-up nya menyakitkan!
20-something woman : Loh kok?
30-something woman : Loh kok apa maksud lo?
20-something woman : gitu .... (sambil monyong)
Married man  : Berlebihan kamu!

Pembicaraan di saat senggang setelah kantor sambil menanti macet usai sering kali begitu nikmat untuk diresapi. Pembicaraan saat-saat santai sering kali terasa bermakna dan mendalam hingga relung hati yang terdalam.  Pembicaraan mengenai cinta sering kali menyenangkan, or else, seringkali juga terasa perih dan menyakitkan.

Mengapa cinta menyakitkan seperti yang diungkapkan Dania, the 30-something woman?  Arinda, the 20-something-year old woman, setengah cenayang, sering kali terheran-heran dengan Dania yang dikenalnya melalui suatu lingkup pergaulan. Sedangkan Wono, the married man hanya bisa tersenyam-senyum apabila dia terjebak dalam pembicaraan yang so girly, but yet so interested to be followed!

Arinda : Mak ... lo tuh kalo gw liat-liat, bener kata mas Wono. Suka berlebihan.
Dania : Berlebihan gimana? (merubah posisi duduk dari membungkuk menghadapi laptop menjadi tegak)
Arinda : Over-prejudiced gitu sama laki!
Dania : Iiihhh kok ngomongnya gitu siy? Emang aku pernah prejudiced apa dengan mu, Boss? Paling aku prejudiced aja kalo tugas kelompok kita gak beres.
Wono : Gak ikutaaan ... gak ikutaaaan ... presentasi kuliah finance dikumpulin wiken ini diajeng Arinda. Maaf, gak ikutan!
Arinda : Mas Wono niy suka gitu, deh! Gini loh, Mak. Dirimu tuh kadang suka aneh ... the way you handle things related to love and relationship.
Dania : Well ... that has never been my strong area of ability :D
Wono : Suka pilih-pilih kamuuuu ...
Dania melotot sambil berpikir, ''Kerjain sendiri tuh presentasi sendiri! Mabok-mabok dehhh!"
Arinda : Bukan gitu, Mas. Si emak ini amazingly suka lari-lari gak jelas. Tiarap-tiarap, dll gituh.
Dania menggaruk-garuk kepalanya yang sepertinya butuh dikeramasin segera, "Ngomongin apa sih kamu, neng? Dasar Cenayang giling!"
Arinda : Mak, you have to admitt ... perjalanan ke Singapore minggu lalu menghasilkan sesuatu, hmmm?
Wono  : Bocah edan ... ke Singapore gak bilang-bilang! Dasar Kentang!!! Pantes semingguan aku coba kontak susah bener!
Dania : Refreshing, boss! Sorry .... You know how stressful I was about work! It was quite a last minute decision, darling! Arindaaaaaa .... told you to keep quiet! Mas Wono gondok tuh!
Arinda : Sorry, can't help it, Mak! I sense something somehow though!
Dania : Sense what? (sambil berusaha untuk tetep tenang.)
Arinda : Hmmm ... I sense that you met someone there and hmmm ...
Dania : Hmmm what??? (mulai panas dingin)
Arinda :You like him ... it's not only like him ... but it drives you mad!!!
Pecahlah tawa Dania, dan Wono yang ikut-ikutan ketawa bingung sambil tolah-toleh dan garuk-garuk gak jelas!
Dania : Gak usah ikutan ketawa, boss! Kerjain tuh paper nya ...

Damn! Pikir Dania. Susah emang punya teman yang cenayang! Dania memang baru kembali dari berlibur untuk bertemu teman lama yang tinggal di Batam. Mila yang tinggal di Batam sedang memulai bisnis kue-kue cantik di sana. Dania sudah kurang lebih ini berjanjian untuk bertemu di Batam, tapi alhasil ... Batam seemed to be very unreachable entah karena tiket habis, jadwal tidak cocok dan buntut-buntutnya adalah selalu ketemuan di negara Singa yang hanya kurang satu jam bisa ditempuh dengan kapal Ferry. Finally, under such a short notice ke kantor dan segala macam upaya nampaknya dilancarkan untuk pergi ke batam pada suatu long week-end yang indah.

Arinda : Mak ... gak usah nglamun!
Dania : ohhh .. oops ... hehehe
Arinda : Sepertinya perasaanmu lagi berasa kayak roller coaster yang pumping your adrenaline, hmmm?
Dania : Goodness! Yes! Very much! Turn me, the ice lady, into a little kitten.
Wono : Little Kitten segede dirimu ... big cat nya macan kali, neng?
Dania : Boss, comment aja! Heran, dehhhh ....

The last week-end, Dania sengaja mengambil cuti sebelum the long week-end. Selain untuk melihat business baru Mila yang sedang growing, Dania ingin menenangkan diri, she needed some times to think about many things, schools, work and herself. Dania merasa the whole things back at the office really pissed her off. Boss yang dungu, shareholder yang tidak committed, keadaan yang teruk, yang membuat Dania seperti orang asing. Stress berkepanjangan, marah-marah gak jelas, while belum ada respon dari perusahaan-perusahaan yang dia apply sebelumnya. She decided to be away sebelum dia gila.

Arinda : Care to share with me, darling?
Dania : Katanya cenayang? Gak perlu diceritain dong ...
Arinda : Mak, please deh ... gak usah ngeles. Muka mu kliatan sudah less stressful compare to weeks before.
Dania : Really?
Arinda : I can see it from the look in your eyes. Sparkling like diamond ... halah ...
Wono : Berlebihan kamu, Ndukkkkk.
Arinda : Nyamber aja .... paper slesein! (sepertinya mas Wono berteman dengan perempuan2 macan hahahahha)
Dania : Hmmmm ... it's not really a big deal though. Just met someone I know years ago.
Arinda : And?
Dania : That was that ... hari ke dua di Batam, mulei bosen! Mila ajak aku ke Sing. Untung bawa pasport. Ada ketemuan sama temen-temen apa gitu, gak ngeh?
Arinda : You met him there?
Dania : Kurang lebih gitu deh ... si Mila sama Iqbal ada gathering ama mantan temen-temen sekantor Iqbal or something.
Arinda : Go on ....
Dania : I met someone familiar ...

Di malam yang indah itu di pinggiran Esplanade, lampu-lampu berkilat2 membayang ke sungai .... Dania, Mila, dan Dima, the cute 4-year-old girl, anak Mila, duduk kecapekan di pinggiran esplanade sambil menenteng barang-barang bawaan made in IKEA yang membuat 2 orang itu menjadi 2 orang kalap. Sambil menyedot orange juice yang mereka beli dari Burger King, mereka menantikan Iqbal, suami Mila, yang sedang mempersiapkan ini itu untuk acara gathering esok hari. Agak ridiculous pikir Dania, ketemuan aja jauh-jauh amat di negeri orang?
"Ya temen-temen mas Iqbal banyak yang udah nyebar di malaysia, thailand, singapore, gitu-gitu deh Mbak ... kebetulan ada long wiken, kok mereka sepakat ketemuan di sini. Pas ada yang tugas di sini, pas ada yang lagi liburan ama keluarganya. Padahal gak banyak-banyak amat kok mbak, cuman 10-15 orang doang. Ya cuman gtu deh ... buntutnya, mostly pada ngikut! Karena mas Iqbal di Batam sama dua lagi temennya emang tinggal di sini, alhasil, ketiban sampur deh!" jelas Mila.

Dari kejauhan nampak tiga orang lelaki muda berjalan ke arah mereka. Finally, Iqbal dateng juga, time to go back to the hotel after a long day mengukur jalanan negeri Singa ini. Di antara kegelapan malam ... one of Iqbal's friend looks really familiar! Dania couldn't stop starring at him. Itu kan ....
"Anya?" dia tau nama kecil Dania.
"Mas ... ehm ..."
"Sapa hayooo ..."
"Mas Arga?"
"Kirain lupa ..."

Gosh! That guy! I met him through chatting jaman baheula bangettttt .... Met him once a long long time ago. Kok bisa yyaa? Jauh lagi di negeri orang. Tapi remang-remang begini? Kayaknya sih gak banyak berubah. Gatau aah ... penyinaran kurang nampak jelas sepertinya. Belum lagi mereka harus segera balik ke hotel karena Dima sudah cannot take it laaa .... udah mulei merengek-rengek semenjak menapakkan kaki di esplanade, "Bunda, katanya kalo udah ketemu ayah kita ke hotel?" "Bunda, Dima kapan balik ke hotel?" "Bunda, Dima pengen ke hotel!" "Bunda, hotelnya jauh, gak?" dan finally, not much hanya lengkingan dan jeritan, "Bundaaaaaaaaaaaaaaaaa ... hua hua hua!"

"Mas Ga, anakku wes rewel iki! Besok ketemuan jam setengah 10 gitu? Toh udah beres semua 'kan?" kata Iqbal
"Bereslah, Bal! No worry, everything is under control!"
"Sorry gak bisa gabung sampe malem nih! Kasihan kalo nyonya sendirian." Sialan! pikir Dania. Emang aku anak-anakan patung?
"Gak masalah, Bal! Toh aku sama Anto paling langsung balik apartment, nonton bola!"
"Mas Arga, pamit ya?" kata Dania sambil mengajukan tangannya.
"Loh, mau ke mana, Nya? Besok 'kan masih ketemu? Ehm .... besok kamu gabung 'kan, Nya?" tanya Arga
"Oiiya ... gampang lah itu! Tergantung Tuan besar sih saya? Maklum baby sitter hhehehhehe ...."

Arinda : Goblokkk, Nyahhh! Itu namanya dunguuuuuu ...
Dania : Emang kenapa?
Arinda : Ngapain buru-buru pamit?
Dania  : Lah karena aku satu penginepan sama Iqbal-Mila, ya ngikut mereka dong aku!
Arinda : Ya gak usah buru-buru pamit lah! Sapa tau mas Arga ngajakin apa kek, namanya juga the night is young, di negara asing, hal-hal indah bisa terjadi, Mak!
Dania : Ihhhh ... ngarep! The story is not over yet, darling!
Arinda : Malesnyaaaa ....

Keesokan harinya, di suatu resto di kawasan Clark Quay, rombongan sirkus teman-teman Iqbal berkumpul. Kenapa rombongan sirkus? Saking rame nya.  Beberapa perempuan dewasa berkerudung cantik, bersuamikan lelaki matang dengan perut yang sudah mulai membuncit. Beberapa anak-anak mendekati remaja berkumpul, seperti sudah saling mengenal. Beberapa lelaki muda ditemani oleh istri-istri mereka dengan menggendong anak mereka dengan range usia balita. Mereka ini pasti yang selevel dengan Iqbal. Beberapa lelaki yang datang sorangan wae, tanpa pendamping seperti Arga, Anto dan beberapa yang lain nampak santai bersosialisasi, saling memotret untuk dokumentasi pribadi. 

Dania terpaksa datang karena Mila memaksanya untuk gabung. Mila merasa kurang dekat dengan istri-istri dari teman si Iqbal yang katanya agak-agak sombong dan rumpi. Milla yang dulunya adalah legal supervisor di suatu kontraktor oil and gas suka merasa risih kalau mereka sudah mulai mengobrol yang enggak-enggak.
"Booowwwk ... untung dirimu ikutan gabung, Mbak! Gue suka males kalo itu nyonyah-nyonyah ketemu. Capedehhh ... yang diomongin di kantor baru suami nya udah dapet ini lah .... ato kalo gak si sapa sirsak (sirik-note) gara-gara suami si ini dipindah ke Thai lah. Duhhh ... omongan nya begitu-begitu mulu, deh!"
"Hehehehe ... gak ada salahnya lah kadang jadi pengamat infotainment. Gak kudu ikutan jadi bahan berita, at least, sapa tau ada info-info penting di antara infotainment ituh hehehe." kata Dania sambil asyik mengamati ibu-ibu muda yang terlihat ngobrol dengan gayengnya.
"Untung si Dima juga lagi aktif-aktifnya lah. Jadinya I have all the reason buat bilang, aduh bentar ya ... si Dima ngajakin main hahhahaha ..."
"Sok lo ..."
"Biarin dari pada gue jadi ibu rumpi, Mbak! Turun dong martabat gue sebagai mantan wanita karier hahahahah ..."
"Jeng ... lo tuh mungkin kena sindrom tak kenal maka tak sayang ..."

Dania berusaha mengajak Milla untuk lebih mingle dengan ibu-ibu itu. Well, at least, mengajak Milla untuk mencoba mengenal lebih jauh istri-istri teman si Iqbal. It turned out that, it wasn't that bad at all ... Mereka cukup welcome pada Dania dan Milla. Dan paling gak Dania gak terjebak bagaikan orang asing di tempat asing. Ingin rasanya lebih lama hangin' around di sana, apa daya dia harus pulang malam itu juga karena ada acara lamaran sepupunya yang ingin dihadirinya esok harinya.

On her way out ...
"Anya ... kok buru-buru?"
"Eh, mas! Gak kliatan ... Balik hotel mas, nguber pesawat nanti sore."
"Kok buru-buru? Iqbal-Milla decide buat lanjut ama kita loh ke Melaka terus ke KL!"
"ehmmm ... tempting! Tapi ada lamaran sepupu, Mas. Aku ditungguin."
"Sayang banget ..."
"Mo berangkat jam berapa?"
"Udah diaturin sama si Anto tuh ... sore ini mungkin."
"Next time, I will! Promise!"
"No prob lah! Kontak-kontak di YM ya jeng?" sambil mendaratkan kecupan di pipi kanan dan kiri Dania.
"Okay!"

Entah mengapa? Arga terlihat begitu beda siang itu. Arga yang dibungkus dengan polo-shirt hijau army terlihat begitu outstanding dengan kulitnya yang sawo matang.  Nampak so mature dan ... haaaahhhh *sigh*. Banyak what if questions memenuhi kepala Dania dalam perjalanan menuju Changi. Sambil mendengarkan Rod Steward American songbook melalui iPod nya ... Pikiran Dania melayang-layang di awan.

Arinda : Guoblokkkkkk, Nyahhhh!!! Dunguuuuuuuu kamuuuuuuuuuuuuuuuuuu!!
Wono : Sudah ... sudah ... jangan jadi drama queen. (sambil garuk-garuk kepalanya yang udah seminggu gak dikramasin kali?)
Arinda : Abissss .... ehhhh ... sebel gue! Sepenting apa sih dateng ke lamaran sepupumu itu, hmmmm?
Dania : Ya cuman family gathering gitu sih, ada urusan bisnis sampingan ama sepupu cewekku yang dokter itu. Ya cuman ngobrol sih.
Arinda : And you became just one of the crowds. Penting banget sih Mak!
Dania : I got a ticket in my hand, I guess that was a pretty damn good reason for me to go home!
Arinda : Okay ... Okay ... yang berlalu biarlah berlalu ..... But actually, how you really feel?
Dania : It's like being struck by lightening!
Wono : halah ... berlebihan kamuuu ...
Dania : Udah selse belum introductionnya? Comment mulu, tapi dari tadi halaman 2 terus gak nambah-nambah?
Wono :heheheheh ... go on ... abis ceritamu nampaknya terlalu menarik dibandingin bahan presentasi ini je?
Arinda : Kok bisa gitu, Mak?
Dania : Aku sendiri juga heran ... kok bisa gituh?  No matter how hard I tried to calm, tapi deep inside feeling ku adalah aku berasa boneless dan speechless, Nda!
Arinda : Huwaaaaa .... trus, trs ... mau mu gimana sekarang, itu yang paling penting.

Frankly speaking, Dania sendiri tidak tau apa yang harus dilakukan. It's been a while sejak dia putus dengan Tito, her long and winding relationship semenjak masa kuliah. Dania thinks that lately dia merasa kesulitan yang amat sangat dalam membina relationship since then. Selalu saja ia merasa involve dengan pria yang salah. Pada saat ada seseorang yang menyatakan cinta, mengejar-ngejarnya, dan siap menikahinya, Dania malah merasa terancam, tidak nyaman dan the most important thing was that she was not into that guy. While ada beberapa kesempatan, dia bertemu dengan someone yang biasa-biasa saja dan bisa in a way mencuri hatinya, umumnya pasti those guy terbalik yang tidak into her. Or else, Dania dengan segala macam keminderan terhadap lelaki, dia selalu berprasangka bahwa those guys are just simply not into her. Furthermore, satu hal yang dibilang agak absurd oleh Arinda adalah bahwa Dania suka sembunyi-sembunyi menyukai orang. Begitu ada signal dari pihak sang lelaki (dunno yet whether it was a good sign or not?), Dania langsung draw back dan tiarap!

Dania : I don't know, Nda? I really don't have any idea!
Arinda : Owh .. you ... sini sini sini .... (sambil memberikan the biggest hug she can possibly give)
Dania : Ehm ... thnx, darL.
Arinda : No worry, darling. I'm here for you!
Wono : berpelukaaaaaan ... kayak tontonan anak ku aja!
Arinda : Sirsak kamu, Mas!
Wono  : Mending gue sirsak daripada jeruk hahahahhaha ...
Dania : Giling!
Arinda : trus trus?
Dania : Lagian ... aku pikir bener kata Mas Wono, jangan berlebihan dulu. Aku gak ngerti posisi dia padaku gimana?
Arinda : Usaha lah Mak. It's okay? Menurut kartu-kartu ku yang keluar dari tadi, ada possibilities asalkan dirimu telaten, sabar dan mau berusaha. Kartu-kartu besar loh, Mak! The Emperor, The Empress. Sebenernya, pada saat dia lihat dirimu waktu itu ... The Empress ini yang nampak di mata dia. Unfortunatelly, kebodohanmu yang amat sangat cukup membuatnya gamang whether you are really into him or not?
Dania : I am ... bener-bener, deh! Tapi ... gimana? I don't know how?
Arinda : Dia tuh lelaki yang nampaknya pernah tersakiti, Mak. Please be gentle ...
Dania : What about me? Aku juga pernah tersakiti ... Nobody cares?
Arinda : Kumat parnonya ... kamu selalu su'udzon seperti itu! Becareful of what you wish for, darling! Be positive! Nothing's wrong kalau kau berusaha dulu as long as you keep it as graceful as possible.
Dania : Kalo ketauan .... malu dong?
Wono : Dan, kamu pikir kami para lelaki ini gak malu apa kalo ketauan suka ama prempuan. Kamu gak mikir kalo kami juga malu kalo seandainya kami ditolak?
Dania : Yang bener???
Wono : Aku dulu juga mikir gitu, Dan! Mana istriku cantiknya kayak gitu ... agak gak PD lah aku.
Dania : Terus?
Wono : Ya udah lah ... pikirku waktu itu ... kalo gak usaha, ya gak bakal dapet lah sama si nyonyah ini.
Arinda : See? Sama aja kok, sist! Laki prempuan sami mawon.
Dania : God! Susah banget ya?
Arinda : Gak susah, kok! Yang penting telaten! Turunkan gengsi, dia seorang emperror yang siap menantikan empressnya.

Pikiran Dania menerawang jauh! Arga seems close but far away.  But, deep down ... this time, Dania has a different perspective about love. Dia sedang berpikir, whattahell ... whatever it takes! Dania berniat menjadi penjuang cinta di usianya yang sudah more than enough.

THIS HAS BEEN WRITTEN BY A MAN.

[A real posting for my Friendster blog. I got this following article from a lovely, adorable, long time friend, we've been friends for almost 2 decades. ]

200467441001 This is for all you girls 30  years and over... and for those who are
turning 30, and for those who are scared  of moving into their 30's. AND for guys who are scared of girls over 30!

This was written by Andy Rooney from CBS 60 Minutes.
Andy Rooney  says:

As I grow in age, I value women who are over 30 most  of all. Here are just a few reasons why:
A woman over 30 will never wake you in the middle of  the night to ask, "What are you thinking?" She doesn't care what you  think.

If a woman over 30 doesn't want to watch the game, she doesn't sit  around whining about it! She does something she wants to do. And, it's usually something more interesting.

A woman over 30 knows herself well enough to  be assured in who she is, what she is, what she wants and from whom. Few women  past the age of 30 give a damn what you might think about her or what she's  doing.

200478000001Women over 30 are dignified. They seldom have a screaming match  with you at the opera or in the middle of an expensive restaurant. Of course, if  you deserve it, they won't hesitate to shoot you, if they think they can get away with it.

Older women are generous with praise, often undeserved.  They know what it's like to be unappreciated.

A woman over 30 has the  self-assurance to introduce you to her women friends. A younger woman with a man  will often ignore even her best friend  because she doesn't trust the guy with  other women. Women over 30 couldn't care less if you're attracted to her friends  because she knows her friends won't betray her.

Women get psychic as  they age. You never have to confess your sins to a woman over 30. They always  know.

A woman over 30 looks good wearing bright red lipstick. This is not  true of younger women.

73170788Once you get past a wrinkle or two, a woman over 30  is far sexier than her  younger counterpart.

Older women are forthright  and honest. They'll tell you right off if you are a jerk if you are acting like  one! You don't ever have to  wonder where you stand with her.

Yes,  we praise women over 30 for a multitude of reasons.
Unfortunately, it's not reciprocal. For every  stunning, smart, well-coiffed hot woman of 30+, there is a bald, paunchy relic  in yellow pants making a fool of himself with some 22-year-old waitress.

Ladies, I apologize. For all those men who say, "Why buy the cow when  you can get the milk for free". Here's an update for you. Nowadays 80% of women are against marriage, why?
Because women realize it's not worth buying an  entire PIG, just to get a little sausage.

Well ... well ... am I glad being 30 something year old woman? I'll say it out loud, I AM!!!!

Please Visit

Belum pernah posting neh di friendster blog saya. Dari pada saya bingung ... please visit my real blog di :

http://nienordinary.blogspot.com

and ENJOYKANLAH ...